Tampilkan postingan dengan label street food. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label street food. Tampilkan semua postingan

Rabu, 12 Juni 2013

kendor alias kentucky dorong



kalau bisa buat di rumah kenapa gak bikin sendiri... 

keponakan saya suka sekali ayam goreng tepung kentucky, umurnya waktu itu baru 3 tahun dan dia enggak mudah dikibulin. dia ngerti mana ayam yang asli dibeli di restoran, mana yang dibeli di jalan. saya menyebutnya kendor atau kentucky dorong. 

dan tentu saja dia enggak mau makan kendor.. duhh.. sombong amet ya si bocah.. saya masih suka tertawa geli ketika mengingatnya. 

 

sebenarnya saya enggak punya resep ayam goreng kentucky yang rasanya mirip. tapi, ayam goreng tepung buatan saya ternyata mau juga dimakan sama si dedek.
 
saya mengungkep ayam dengan bumbu halus kunyit,ketumbar, bawang putih dan garam. air perebusnya tak perlu banyak-banyak. setelah air asat/habis, ayam disisihkan. saya mengocok sebutir telur dengan 4 sdm air. celup dan balut ayam ke dalam telur. 

kemudian di dalam toples besar dengan penutup saya menuang tepung ayam goreng instant. setiap satu sachet besar saya tambahkan 1 sdm tepung terigu dan 1 sdm tepung beras karena ayam ungkepnya sudah agak asin, takutnya keasinan karena tepung ayam goreng instant itu biasanya sudah asin banget. biar tambah enak saya tambahkan bubuk lada, gula pasir sedikit, oregano-thyme-rosemary, kemudian saya guncang-guncang supaya tercampur rata. satu demi satu ayam masuk ke dalam tepung pelapis. cara membalut ayamnya dengan mengguncang-guncang toples sehingga seluruh permukaan ayam terbalut tepung. tangan saya  jadi enggak kotor. saya kerjakan sampai semua potongan ayam terbalut tepung. kemudian di goreng dalam minyak banyak dan panas.

karena sudah diungkep, maka daging ayamnya matang dan tepung pelapisnya enggak gosong.
metode yang sama juga saya gunakan untuk membikin lele penyet goreng tepung, tempura udang atau cumi atau terong atau jamur tiram. saya enggak suka tangan kotor karena itu saya sediakan toples besar untuk membikin bahan yang ingin saya makan tercampur tepung pelapis.

nah jadi deh kendor-nya.. bisa dimakan dengan saos tartar atau barbeque.. tapi si dedek sih enggak rewel, dia makan begitu saja dengan nasi dan saos tomat juga udah seneng... dan si mama gak perlu mahal-mahal beli ayam per potong 25ribu untuk sekali makan. 

bayangin, modal 50ribu bisa buat sekeluarga..kalau beli Cuma bisa dapat 2 porsi.

please give it a try..

until then berkah dalem .. dan terus eksplorasi sama makananmu.. temuin asiknya duplikasi makanan dan nemuin resep baru yang lebih seru buat seleramu 

martabak kentang rendang



kita bisa kok bikin martabak sendiri di rumah. lebih hemat dan dapat banyak. saya pakai kulit lumpia untuk bikin martabak. ada banyak sekali bahan-bahan dan bumbu untuk diisikan dalam kulit lumpia, dari yang murah dan sederhana, sampai yang mewah dan bikin kantong bolong.



kadang-kadang kulit lumpia yang dijual di pasar itu rapuh dan bikin ambyar ketika digoreng, dan itu bikin kesel, karena minyak satu wajan jadi kotor isian martabak. ada tips-nya buat goreng martabak dari kulit lumpia. beli kulit lumpia yang besar. misalkan kamu beli 30 lembar kulit lumpia besar. ambil 6 kulit lumpia dan potong jadi empat bagian. sekarang kamu punya 24 lembar kulit lumpia besar dan 24 potongan seperempatan kulit lumpia. 

ketika mengisi adonan, letakkan seperempatan potongan kulit lumpia di atas kulit lumpia besar, kemudian letakkan sesendok adonan dan lipat menyerupai amplop. kalau saya enggak merekatkan dengan putih telur atau adonan tepung kental supaya martabaknya enggak pecah ketika digoreng. melainkan semua pengerjaan itu saya lakukan berbarengan dengan pekerjaan menggoreng. bagian bawah lipatan amplop martabak itu saya cemplungkan separo bagian di minyak panas, sehingga dengan sendirinya menutup. kemudian saya dorong deh ke tengah wajan, ketika sudah menutup, dan martabaknya tinggal di bolak-balik, enggak pecah dan enggak lembek. 

kali ini saya mau share martabak rendang yang sering saya bikin di rumah. saya gak bisa berikan timbangan berat untuk setiap bahan yang saya tulis di sini, karena memang saya gak mengukur dalam gram, melainkan dalam mangkuk yang sama untuk setiap bahan.

saya siapkan 1 mangkuk kentang (2 buah yang besar) yang dipotong kubus kecil dan telah digoreng sebentar dalam minyak panas. sisihkan. kemudian saya menumis 1 mangkuk daging giling dengan 2 siung bawang putih hingga harum. saya masukkan 1 mangkuk parutan wortel (1 buah wortel import besar) ke dalam tumisan daging. kentang kemudian masuk dan saya beri 1 sachet bumbu racik rasa rendang dan 1 sdt gula pasir. tuang setengah mangkuk air dan biarkan asat / kering. matikan api. campur dengan 1 mangkuk rajangan daun bawang. 

untuk setiap 1 mangkuk adonan martabak saya pecahkan sebutir telur ayam dan siap diisikan ke dalam kulit lumpia.

digado enak, buat teman makan nasi uduk juga enak...

 please give it a try..

until then berkah dalem .. dan terus eksplorasi sama makananmu.. temuin asiknya duplikasi makanan dan nemuin resep baru yang lebih seru buat seleramu

abang tukang bakso mari-mari sini



Hadiah terindah yang pernah saya berikan untuk diri sendiri adalah dengan tetap memiliki akal sehat, berusaha tak dangkal dan punya makna dalam hidup ini. saya menghadiahi diri sendiri untuk terus berkembang dan belajar.

kadang saya masih suka kangen main ke kampus. nostalgia. mengingat-ingat masa-masa pernah muda, merdeka (merdeka-nya masih, mudanya sudah enggak) dan silly. keinginan untuk mampir main ke kampus sering enggak kejadian. sudah diniatkan tapi enggak jadi, begitu terus.

ada satu spot favorit di seputaran kampus tempat saya dan kawan dekat sering menghabiskan waktu. pada saat saya kuliah, di sepanjang area parkir stc senayan penuh dengan pedagang makanan dengan gerobak. ada bakso yang jadi favorit saya di sana. gerobak itu diberi tulisan bakso wiro. di tahun 2010 harga seporsi-nya sepuluh ribu rupiah. 

aduuhh waktu mengetikkan tulisan ini saya jadi ngecess..laper teringat kuah kaldu yang mengepul-ngepul dan bakso panas yang enak itu, leleh dan legit. wiro jualan hingga pukul 2 pagi, ngabisin dagangan. kalau saya dan teman-teman masih begadangan malam-malam, maka makanan pinggir jalan yang kami pilih ya bakso wiro ini. anget dan murah.  orang rumah juga suka minta titip dibelikan bakso ini setiap saya sempat. 

suatu hari enggak tertahankan lagi pengen makan bakso wiro dan berangkat lah saya ke kampus untuk ngicipin lagi panganan yang saya suka sambil mengingat-ingat dengan siapa saya pernah makan bakso di sana. kenangan berhamburan. ternyata saya enggak beruntung, hari itu gak ad gerobak bakso yang setiap detailnya saya ingat akrab. pulanglah saya dengan kecewa.



beberapa hari setelahnya saya kebetulan pulang ke rumah melewati bekas SD saya dahulu di jalan haji nawi. ambil jalan potong menuju rumah ketemu satu spot tukang bakso tanpa gerobak. terbeli jugalah bakso itu. harganya sepuluh ribu di tahun 2013 karena ada di perkampungan yang penuh tempat kost-kostan dan kontrakan. sampai rumah saya terkaget-kaget. ini bener-bener bakso yang saya inginkan. seperti ingatan saya tentang bakso wiro. bakso pingpong-nya besar dengan isian cacahan urat dan daging, pecah di mulut rasanya.

sebenernya sih bakso di mana-mana sama, saya aja yang sok romantis. tapi beneran bisa nemuin bakso yang rasanya super duper mirip dengan ingatan terakhir kali ketika saya makan bakso wiro itu bikin hari saya cerah. *lebaaii..*

untuk melengkapi makan kali itu saya tambahkan poached egg. putih telurnya lembut dan kenyal, sementara kuning telurnya masih runny..enak bangetttt....
 


 until then, berkah dalem